berbagai pandangan, Fotografis, memuisi, Meniti, Reportase, Tajuk

Cahaya di Mt.Slamet

Gambar diambil pagi hari, sekitar matahari yang baru saja menampakkan wajah’ cerianya. “Menurutku memang ia tak pernah murung juga sih. Yang mungkin karena itu disebut Mentari; Sang Surya, atau Cahaya”

Dipuncak gunung Slamet; ya kalau bung orang Indonesia, pastilah tau toh! Gunung tertinggi di Jawa Tengah nan menawan ini.

Banyaknya penikmat-berjalan mendaki, pengunjung-bertemu sapa, pencari-dan penemu, hingga masih banyak lagi dari berbagai “Destinasi-destinasinya masing-masing”.

Kala itu saya masih newbie atau masa perdana (kata temen-temen senior). Yang sepertinya sangat banyak sekali yang perlu saya tangkap dan mengolahnya menjadi sebuah informasi. Syukur-syukur bisa jadi bahan sebuah tulisan. Hehe..

Tipe atau Cara ?

Saya ingin bertanya kepada bung, yang membaca ini, dan tolong! ✋ Izinkan aku untuk menceritakan kegelisahan-kegelisahanku sebagai berikut;

Bukan kegelisahan seperti biasanya sih, kali ini saya diserbu dan tidak bisa menjadi penampung dari serbuan pertanyaan-pertanyaan ini.

Sekali lagi, Sebelum bertanya, izinkan saya untuk sekadar bercerita ya.. bung.

“Waktu itu saya sangat senang bisa melangsungkan akad perjalanan dari Basecamp menuju Puncak, dengan diawali doa bersama menurut kepercayaan masing-masing. Dan istirahat semalem dipos pertama. Ya.. betul di Pos 1, Namanya kalo nggak salah “Pondok Gemirung”

(Meskipun demikian kami lebih banyak menggunakan waktu untuk bermain dan menikmati seduhan kopi hitam bareng)

Tidur bukan sebuah tujuan, karena istirahatlah yang kami utamakan.

Lanjut perjalanan sekitar pukul 7 pagi, hingga di pos 5, pusat air berada. Kami mengambil hingga beberapa wadah “Botol bekas air mineral kemasan satu liter sebanyak tiga buah”.

Karena persediaan air yang sangat kurang, dikarenakan diperjalanan sudah dikuras oleh tenaga kami, yang mau tidaknya harus banyak-banyak mengonsumsi air.

Untuk itu, kalau bung berkenaan melakukan perjalanan ke puncak gunung, saya sarankan untuk supaya menomorsatukan yang mengandung air, atau membawa bekal air yang agak lebih.

Dan membawa madu sachet, dari temanku saya baru tahu, katanya sangatlah penting untuk menjaga stamina, madu mengandung banyak nutrisi dan bertambahnya energi.

Hingga dipuncak, sebelem Surya merekah, dan seusai Adzan Subuh berhenti lalu iqomah kita rombongan, sampai dipuncak gunung slamet. Nggak kebayang deh..

Rasanya tadi saat masih diperjalanan bebatuan nan horor dan beresiko menerjunkan pijakan kaki yang tak menjaga keseimbangannya dan superkehati-hatianya akan longsor bersama tumpukan batu itu, yang ternyata kita sudah berada diujung batu-batu itu.


Mungkin saat ini yang bisa saya beri kepada bung, semoga bisa bermanfaat bagi bung.

Soal kegelisahan yang tadi bung lupakan saja, dan mari kita simak pertanyaan berikut dan tidak perlu dijawab ya.. bung;

YANG PERTAMA; “Apa Tujuanmu Membaca?”

KEMUDIAN; “Apa Kelebihan Orang yang Membaca?”

LALU; “Untuk Apa Kegiatan Membaca?”

Iklan

9 tanggapan untuk “Cahaya di Mt.Slamet”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s