Fotografis, Meniti, Reportase, Tajuk

Setetes Air dan Pelan-pelan

Kebanyakan orang akan menggerutu atau bahkan mengutuk kedatangannya, ketia ia keluar tanpa pelindung dan kebasahan olehnya. Bukankah setiap tetes air hujan adalah sebuah rezeki dari Tuhan?

Darimana sumber air yang kita minum setiap hari? Bukankah tanpa adanya hujan mustahil kita bisa menikmati keindahan hidup? Saya ingin mengajak anda untuk selalu menelisik dan mencari informasi tentang kehidupan kita sehari-hari yang sering kita tidak sengajai dan dengan sengaja kita yakini sebagai musibah yang sesungguhnya itulah Keberkahan yang Tuhan beri.

Gerimis dari Tuhan & Persepsi Manusia

Rintik-rintik air pagi ini ingin kumengajaknya untuk sedikit menelisik momentum hari-hari yang terlewati, banyak ketidaksengajaan yang terjadi dan itulah yang membuat saya merasa mendapat sebuah ‘Kejutan dari; Yang Mahakuasa.

Karenanya saya mendapat sebuah kesadaran dari berbagai usaha atau pekerjaan; yang dilakukan dengan ‘Sengaja, karena toh masih ada Hak Sang Maha disegala Peristiwa.

Pelan-pelan, Perlahan-lahan, Kadang ada pertanda-dengan datangnya awan gelap, Tak jarang-Langsung Turun, Bisa juga disaat Matahari-sedang memancarkan sinarnya. Jadi ya Terserah-serah Tuhan


“Mengapa Kau Minum dan Menimbaku dikedalaman TANAH, Sambil Mengutukku Disa’at KEBASAHAN”


Beberapa hari lalu saya ikut serta dalam kegiatan Pemuda yang penuh dengan rasa kebersamaan yang tidak bisa saya rasakan jika hanya duduk manis di rumah.

KSL,IKRA & IRMAS adalah sebuah wadah atau tempatnya para pemuda/i berkumpul dan berkerjasama dalam bentuk Organisasi atau kelompok di desa saya.

Desa LIMBANGAN, ya punya banyak budaya atau tradisi kebersamaan seperti pemuda/i ini, tak lain juga para sesepuh atau orang tua kita.

Kurun waktu tertentu yang disepakati oleh seluruh anggota, kami biasa menjalankannya ‘Dua Minggu sekali.

KSL yang terdiri dari Cewek & cowok ganteng, Dan IKRA yang hanya beranggotakan perempuan-perempuan SMP-SMA yang super semangat dengan kebersamaan setiap Kamis Malam atau Malam Jum’at, sedang IRMAS adalah agenda akhir bulan.

Jum’at-sabtu kemarin kita berkumpul di tempat biasa untuk mengerjakan sesuatu, persiapan untuk acara yang tidak biasa karena dari ketiga Elemen ini mengadakan acara; ‘Memperingati ISRO’ MI’RAJ.

Dari persiapan ekonomi, tempat dan segala sesuatu yang harus dipersiapkan dengan matang dan ini dilakukan oleh para pengurus atau panitia pelaksana.

Yang akan dilangsungkan pada malam minggu, sabtu siang langit masih menampakkan wajah cerahnya. Karena itu pula kami merencanakan untuk menyewa PANGGUNG sederhana,kurang lebihnya sekitar 5x4m, dengan maksud agar supaya acara ini lebih berkesan dan menjadi tidak seperti biasanya.

Selesainya proses persiapan dan penataan, sekitar bakda Ashar menjelang waktu Maghrib, tepatnya pukul 16:30 kami bergegas ke rumah masing-masing dengan hati ceria dan penuh semangat.

Dan masih dengan keyakinan kalau nanti acara berlangsung tidak akan turun hujan, toh langit masih dengan membiru dan cerahnya awan.

Sehabis waktu Maghrib, Tiba tiba . . . .

Sambil kubuka gadget menuju ke aplikasi pesan singkat untuk mengabari dan menghubungi teman-teman.

Langit menjadi gelap dan suara gelegar pertanda air hujan segera turun, karena panggung kita tempatkan di halaman dan tanpa atap atau pelindung dari air hujan. Kami semua panitia agaknya resah dan saling menghubungi lewat WhatsApp. Akhirnya kuputuskan untuk menuju ke lokasi untuk mengecek kondisinya.

Dan inilah penampakan mengesankan dari siraman air hujan yang mengguyur-basahi kain Background dipanggung kita;

Ini yang menjadikan saya merasa seperti mendapat perhatian dari Sang Maha Kuasa untuk terus belajar dan pembelajaran untuk sebuah Persiapan.

Entah apa saja perlu kita perhatikan dan pelajari tentang Persiapan Yang Lebih Matang.

Dan saya pun agak bertanya-tanya. Dimusim penghujan seperti ini mengapa kita menyediakan sebuah panggung tanpa Atap penutup atau pelindung dari air hujan? Dan kenapa tidak kita posisikan saja didalam ruangan?

Bukan sebuah kesalahan besar, karena hujan turun sekitar 20menit yang akibatnya tidak begitu besar pada kain Background yang tertera sebuah guntingan atau potongan rangkaian huruf kertas Asturo, apabila terkena air akan lepas dengan sendirinya. Tak masalah bagi kami karena yang lebih penting dan utama adalah Sebuah Kebersamaan dan kekeluargaan kita.

Saling bersalam-salaman dan tidak ketinggalan pula untuk duduk bersama di atas Tikar yang sudah disediakan. Dan setelah semua berkumpul, kami memulai acara dengan baik dan langit sudah cerah sedia kala.

Dibuka dengan sambutan pembawa acara dan meminta kepada semua hadirin dan hadirout untuk melafalkan BISMILLAH dan Surah AL-FATIHAH bersama dengan harapannya agar bisa berjalan dengan lancar sampai akhir acara.

Dilanjutkan dengan pembacaan; Sholawat AL-BARZANJI dibaca dan disimak oleh semua hadirin, (biasanya yang mendapat tugas membaca sekitar 4 sampi 5 orang).

Belum selesai acara pertama, setengah dari prosesi atau pembacaan Sholawat AL-BARZANJI ini langit menurunkan airnya lagi, gerimis yang akhirnya membuat kita untuk segera berpindah atau hijrah tempat kedalam ruangan.

Ya disebuah Musholla acara ini berlangsung, Yang dihadiri oleh ketua pengurus sekaligus bapak IMAM Musholla. Tak lupa pula Sesepuh; bapak-bapak dan ibu-ibu dengan mengendong anaknya, kami melangsungkan acara kumpul bareng hingga selesai dan diakhiri dengan rasa syukur dan ditutup dengan Bersholawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw dan Sepucuk do’a untuk kebersamaan dan persaudaraan pemuda-pemudi,warga limbangan dan semoga bisa diterus-lanjutkan oleh generasi penerus bangsa Indonesia. Amiiiiin


Tak ada maksud apa-apa kecuali menulis sebuah pesan singkat untuk para generasi muda Indonesia. Semoga kita selalu ingin mencari dan menelusuri akar dan hikmah dari setiap peristiwa di keseharian.

Dari peristiwa ini saya menangkap sedikit demi sedikit kesadaran bahwa setiap apapun perlu diperhatikan dalam-dalam tentang sebuah persiapan dan penataan.

Entah apapun itu, harus diperhatikan oleh kita. Seperti kegiatan tulis-menulis, membaca, mengadakan acara dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan berbagai pilihan dari persiapan dan penataan itu sendiri.

Karena kalaupun kita salah atau kurang tepat, kita sendiri yang akan menerima akibatnya.

Yang terpenting adalah jangan pernah berhenti untuk terus belajar dan melakukan penelisikan disetiap dan segala sesuatu.

Filosofi dari hujan dan gerimis;

Tuhan memberitahu kita tentang kesadaran atau pengetahuan secara perlahan dan dengan cepat kepada setiap manusia.

Terkadang kita tidak menyadari akan adanya sebuah pengetahuan dan kesadaran itu karena sikap kita, Mengutuk,menggerundel dan mencela seperti ketika kita pergi keluar rumah dan kehujanan, langsung kita salahkan Hujan. Padahal yang kurang atau tidak kita persiapkan adalah Persiapan itu sendiri.

Dan marilah bersama-sama untuk menyadari setiap kekeliruan kita setiap hari.

Iklan

6 tanggapan untuk “Setetes Air dan Pelan-pelan”

  1. Keren…sllu ada filosofi di setiap psan yg Anda sampaikan.

    Thanks udah ngingetin agar kita menyadari stiap hal yg trjdi dan yg kita alami, smoga jg kekeliruan demi kekeliruan yg (mungkin) kita buat stiap hr bs diminimalisir. 👌👍

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s